Teologi

Secara etimologis, kata “Teologi” berasal dari bahasa Yunani:

  • θεος, theos → “Allah, Tuhan”
  • λογια, logia → “kata-kata”, “ucapan”, “wacana”, “perkataan”, “uraian”, “pikiran”, “ilmu”

Definisi Teologi dari berbagai sumber:

Ilmu tentang Allah dan hubungan-hubungan antara Allah dan alam semesta

~ A. H. Strong ~

Thinking about God and expressing those thoughts in some way

~ Charles Ryrie ~

The study or science of God

~ Millard Erickson ~

The science of God or of religion; the science which treats of the existence, character, and attributes of God, his laws and government, the doctrines we are to believe, and the duties we are to practice. . . the science of Christian faith and life

~ Webster’s dictionary ~

The study of the nature of God and religious belief

~ Oxford Dictionary ~

Some concept of what God and man and the universe is all about….The study of God’s revelation of Himself to man

~ multiple sources ~

Kata “teologi” dan “teolog” (theologian) sudah mengalami penyempitan makna, sehingga menjadi terminologi eksklusif yang melekat pada institusi tertentu (STT/sekolah alkitab/seminari, dan lulusannya). Namun jika kita mengacu ke asal katanya, dan melihat beberapa definisi di atas, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa setiap kita, at certain point, adalah teolog. Dan setiap kita, baik secara eksplisit atau tidak, sistematis atau tidak, memiliki konsep-konsep teologi dalam diri kita. Bahkan penganut atheisme juga punya teologi, yang mana konsep mereka tentang Tuhan adalah….tidak ada Tuhan. So again, we are all theologians, agree??

Apa kata Alkitab tentang ‘teologi’?

  1. Ibr 5:12-14
    • “kamu masih perlu lagi diajarkan asas-asas pokok dari penyataan Allah” → “you need someone to teach you again the basic principles of the oracles of God” (ESV)
    • “ia tidak memahami ajaran tentang kebenaran, sebab ia adalah anak kecil” → “is unskilled in the word of righteousness, since he is a child” (ESV)
    • “untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat” → “the mature, for those who have their powers of discernment trained by constant practice to distinguish good from evil” (ESV)
  2. 2 Pet 1:5-11
    • kepada iman dan kebajikan, harus ditambahkan “pengetahuan”, pengetahuan tentang apa? Konteks 2 Petrus adalah guru/ajaran sesat, Petrus mengingatkan agar gereja Tuhan perlu diperlengkapi dengan pengetahuan (akan Tuhan) yang benar. Di ayat 2-3, Petrus mengatakan bahwa kita menerima kasih kaunia dan damai sejahtera karena “pengenalan akan Allah dan akan Yesus” → “knowledge of God and of Jesus our Lord” (ESV)
  3. Kol 1:9-10
    • “mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna” → “filled with the knowledge of his will” (ESV)
    • “bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah” → “increasing in the knowledge of God” (ESV)
  4. 2 Tim 2:15
    • “yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran itu” → “handling accurately the word of truth (NASB)”, “rightly dividing the word of truth (KJV)”, “rightly handling the word of truth (ESV)”

Kita yang sudah menerima penebusanNya, dipanggil untuk mengenal Allah (pribadiNya, sifat2Nya, karyaNya, hukum2Nya, rencanaNya, dll), kita dipanggil untuk memiliki pengetahuan (baca: teologi) tentang Allah (knowledge of God – 2 Pet 1:5-11), bertumbuh dalam pengetahuan tersebut, dan terlatih untuk memberitakan/mengajarkannya secara akurat.

Thus, the BIG questions we suppose to ask are not: “Do we need theology?” or “Am I a theologian?”….but…… “What kind of theologian are you?” and “Is my theology sound and biblical?”

The good news is (or, is it bad?) 

We are responsible for our own theology, and one day we have to account for it before God

 
Entah teologi Anda adalah second-hand atau third-hand theology yang Anda dengar/baca dari pihak ketiga (yang bisa saja Anda telan bulat-bulat tanpa diuji lebih dulu), entah itu first-hand theology hasil pergumulan Anda bersama Tuhan, prinsip tersebut akan tetap berlaku.

 

Apakah karena Anda mendapatkannya dari pihak kedua/ketiga maka Anda tidak perlu mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan? Di sesi khotbah di gedung gereja, baik oleh pembicara tetap maupun pembicara tamu, hampir pasti jemaat yang mendengarkan khotbah itu tidak punya kesempatan untuk : (1) bertanya jika ada sesuatu yang kurang jelas, (2) mengkritisi pemaparan/penjelasan si pembicara, (3) menanyakan dasar pemikiran/dasar firman Tuhan yang melatarbelakangi khotbah/pengajarannya, dll. Intinya, pembicara dan pendengar tidak sempat berinteraksi. Jika pembicara tetap (gembala lokal), masih ada kemungkinan interaksi di luar sesi ibadah (by the way, ada yang pernah melakukan ini?). Bagaimana dengan pembicara tamu? Kesempatan itu hampir nihil. What’s left then? Si pendengar, harus menafsirkan atau berusaha memahami isi khotbah/pengajaran tersebut, dan pada akhirnya menerima atau menolak, mengaplikasikannya atau tidak. Entah disadari atau tidak, ini yang selama ini terjadi, and this is how we have our theology within each of us. Dan sebagai teolog dengan teologinya (mengacu pada definisi di atas)…
 
Either speaker, or hearer, we will answer to God someday