Yunus dan Tomas

Sekilas, sulit menemukan hubungan di antara keduanya. Mereka hidup di waktu yang berjarak kurang lebih 800 tahun, yang satu hidup di zaman Perjanjian Lama dan yang satu lagi di Perjanjian Baru. Yunus dikenal sebagai salah seorang dari nabi yang diutus Allah, Tomas adalah salah seorang dari 12 murid. Kita tidak tahu bagaimana akhir hidup Yunus. Menurut tradisi, Rasul Tomas memberitakan Injil ke Persia, Parthia, dan India. Dan di India, ia disiksa oleh orang kafir yang marah, lalu tubuhnya ditusuk tombak dan dilemparkan ke dalam nyala api. Lalu mengapa saya mengangkat cerita mereka dalam satu artikel yang sama? What connection do they have? What similarity do they have in any way?

Well…

They are both known for their negative behavior toward God…

And most Christian, upon hearing their names, will instinctively recall negative things, rarely positive…

Suatu hari anak saya nyeletuk, saat sedang mengerjakan homework di devotion book-nya, “Daddy, Yunus dimakan ikan paus loh, karena dia ga obey sama Tuhan…”. Hhhmmmm…… Are they really that bad???

Nabi yang tidak taat…dimakan ikan. Dua hal yang mungkin akan langsung terbersit ketika kita mendengar nama Yunus. “Doubting Thomas” atau “Tomas si Peragu”, itulah nickname yang diberikan kepada Tomas. Sebenarnya Simon Petrus juga terkenal dengan penyangkalannya, tapi mungkin karena Kisah Para Rasul banyak menceritakan sepak terjangnya, dan ada 2 surat Petrus di Perjanjian Baru, “kesalahannya” agak tersamarkan.

Artikel ini tidak berusaha membela or even clear their names 🙂 (like I can hahaa…), tapi saya ingin mengajak kita melihat dari perspektif berbeda sehingga pemahaman kita tidak berat sebelah, dan yang lebih penting, saya ingin mengajak pembaca memiliki hati seorang bapak seperti yang ditunjukkan Bapa kita pada kasus-kasus mereka. Secara spesifik sebagai bapak atas anak-anak kita (Fatherhood-Parenting), dan secara umum sebagai orang percaya yang telah ditebus-Nya.

YUNUS

Tuhan datang kepada Yunus

Yunus diutus untuk bernubuat kepada Niiwe

Dia lari dari panggilannya

Dimakan ikan besar

Bertobat

Dimuntahkan setelah 3 hari di dalam perut ikan

Akhirnya pergi ke Niniwe untuk bernubuat kepadanya

Niniwe bertobat

Kira-kira begitulah kisah tentang Yunus dalam 3 pasal di kitabnya. We often miss the fourth chapter, which holds the key for understanding the whole thing. That chapter will tell us the WHY, and reveal the Father’s heart…

Mungkin banyak dari kita yang mendapat kesan atau diajarkan dari sejak sekolah minggu bahwa Yunus adalah seorang nabi yang mbalelo atau seseorang yang lari dari panggilan Tuhan atau nabi yang tidak taat atau penakut, dll. Coba kita sama-sama bayangkan dan rasakan situasi di bawah ini:

Anda hidup pada zaman Nazi, dengan kekejamannya yang tak terkatakan. Somehow, Anda menjadi salah satu tawanan mereka. Anda mengalami siksaan yang sangat berat dan menjadi kelinci percobaan dari penelitian mereka. Kota atau desa tempat tinggal Anda dihancurkan. Kenalan, sahabat, family jauh, atau bahkan keluarga kandung Anda mengalami akhir hidup yang naas di tangan prajurit Nazi. Ditembak. Digantung. Mati kelaparan. Mati kedinginan. And somehow… one day… Anda selamat dari kamp konsentrasi. You are one of the lucky survivors. Sekian waktu berlalu. Anda mulai pulih dari trauma tersebut. Lalu Tuhan datang menghampiri Anda. Dia berfirman dan mengutus Anda untuk mendatangi markas Nazi untuk menyampaikan peringatan Tuhan kepada Adolf Hitler. Anda membawa pesan penghakiman dari Tuhan, bahwa 40 hari ke depan Tuhan akan menghancurkan Nazi….. kecuali Adolf Hitler dan para pengikutnya bertobat. WHAT WOULD YOU DO??

Akan sangat mudah menyampaikan kabar kehancuran Nazi dalam ilustrasi ini. “Pembalasan adalah hak Tuhan”, bukan? But, are you ready for the other alternative ending? Bagaimana jika Hitler dan pengikutnya bertobat? Bagaimana jika Tuhan mengampuni bahkan memberkati Adolf Hitler dan pengikutnya. WHAT IF…..??

Kira-kira begitulah pergumulan Yunus. Now, can you at least imagine and empathize with him? Do you get the irony? The battle inside his heart?

He escaped… because he knew the Father’s heart is full of forgiveness & compassion (for Niniveh)

Yunus & ikanYunus, sebagai orang Israel, tahu persis kejahatan Asyur pada zamannya. Dia merasakannya secara langsung. Tidak sampai dua ratus tahun kemudian, sejarah dan Alkitab mencatat bahwa Asyur akhirnya menguasai Israel Utara dan mencerai-beraikannya ke berbagai tempat. Namun Yunus memahami firman di Mazmur 145:8-9. Kita bisa membacanya di Yunus 4:2. Jadi walaupun dia diutus untuk menyampaikan peringatan Tuhan kepada bangsa Asyur (Niniwe adalah ibukotanya), dia tahu bahwa ada kemungkinan bahwa Asyur akan bertobat dan Allah akan mengampuni mereka, karena Allah Israel adalah Allah yang pengampun. He was not quite ready for the happy ending…

Di 7 ayat terakhir di kitab ini, kita melihat kesabaran Tuhan, hati Bapa kita, dalam mengajar dan memberi pengertian kepada Yunus yang sedang kesal. Secara ajaib Dia menumbuhkan sebatang pohon jarak agar Yunus tidak kepanasan di pondok yang dibangunnya (kemungkinan besar berupa batu-batu yang disusun seperti tembok rumah seperti yang lazim di zamannya, namun tidak beratap), namun secara ajaib pula seekor ulat menyebabkan pohon itu layu, sehingga Yunus kembali kepanasan. Yunus tidak bisa menerima kenyataan pahit bahwa pohon yang melindunginya dari sengat matahari, mati dimakan ulat. Yunus menyayangi pohon jarak itu. Dan BAAMMM… Allah memberikan revealing statement-Nya “Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?”

(Catatan: di sebagian besar peradaban/budaya, hirarki ciptaan adalah sbb: manusia dianggap yang paling tinggi derajatnya, lalu binatang, kemudian tumbuhan yang derajatnya paling rendah. Jadi pada ayat ini, Allah sedang berbicara kepada Yunus, bahwa jika dia bersusah hati karena sebuah pohon yang mati (padahal derajatnya paling rendah), apalagi Yunus tidak bersusah payah menumbuhkannya, bagaimana mungkin Allah tidak bersusah hati jika harus kehilangan sejumlah besar manusia (dan binatang) ciptaanNya?)

TOMAS

Don’t tell me you never have any doubt during your Christian life! Pelayananmu tidak menghasilkan sesuatu yang signifikan, dan engkau mulai meragukan visi Tuhan. Rumah tanggamu goncang, dan engkau mulai meragukan pasanganmu yang dulu engkau anggap ‘pilihan Tuhan’. Anakmu berontak dan lari dari Tuhan, dan engkau mulai ragu akan janji Tuhan. Pekerjaan atau bisnismu tidak sukses, lalu engkau mulai meragukan kuasa dan rencana Tuhan. “Benarkah Tuhan ada dan berkuasa?”, mungkin hati kecil kita bertanya-tanya. Never had any of that? Even once in your life?? Never????

Thomas bet everything he had on Jesus, then one day, his Master was crucified and died. Dia terguncang. Kecewa. Takut. Malu (mungkin). Lalu 3 hari kemudian tiba-tiba rekan-rekannya datang dengan berita bahwa Yesus sudah bangkit. Really?? The news is too good to be true. Ada rasa ragu di dalam hatinya. “Apakah pilihanku selama ini sudah tepat? Jangan-jangan aku salah jalan? Tuhan…Tuhan…aku perlu buktinya!! Lord, I need proof” (Yohanes tidak mencatat mengapa Tomas tidak ada bersama-sama murid lainnya pada saat Yesus menampakkan diri. Mungkinkah dia sedang meratap dan berkabung? Everybody has his own way to mourn, right?)

Engkau mempertaruhkan segalanya pada Tuhan dan rencanaNya, and one day, everything seems to fall apart. Can you connect with Thomas? With his circumstances? He’s an ordinary man, just like the rest of us. Dan ada saat-saat tertentu dalam hidup kita, ketika kita menjadi Tomas. So next time we ever talk about him, let’s give him some credit

Mari kita renungkan beberapa hal tentang Tomas:

  • Yohanes mencatat tentang keraguan Tomas, dan sampai kapanpun fakta itu akan tetap ada, tapi yang perlu dicatat adalah Tomas adalah orang yang jujur dan tulus dengan keraguannya, dan juga ketidaktahuannya (Yoh 14:5)

…and every time, Jesus rewarded him with honest, sincere and straight answer…

Ia mengungkapkan keraguannya sepenuhnya, dan keraguannya juga terjawab sepenuhnya. Saya pribadi beranggapan bahwa ragu hanyalah caranya merespon, bukan cara hidupnya (way of life).

  • Pada satu titik, ketika jelas bagi semua orang bahwa hidup Yesus dalam bahaya, hanya Tomas yang menyatakan secara eksplisit apa yang sebagian besar dirasakan para murid, “Marilah kita pergi juga untuk mati bersama-sama dengan Dia” (Yoh 11:16), dia tidak ragu-ragu untuk mengikuti Yesus, there is no doubt, he is a sincere man…
  • Dan setelah Yesus secara khusus menyempatkan waktu untuk menjawab keraguannya, Tomas pun merespon dengan sepenuh hati dan jiwanya “Ya Tuhanku dan Allahku!”, dan sejarah pun mencatat dia mati sebagai martir

Some people may never have doubt about Jesus, but their conviction also maybe not as strong and bold as Thomas

Doubting ThomasKita bisa saja merasa ragu, tapi bukan berarti harus hidup dengan cara hidup yang senantiasa meragukan segala sesuatu (skeptis). Adanya keraguan mendorong kita berpikir ulang. Tujuannya lebih untuk mempertajam pikiran daripada mengubahnya. Keraguan dapat digunakan untuk mengajukan pertanyaan, mendapatkan jawaban, dan mendorong pengambilan keputusan. Tapi keraguan tidak pernah dimaksudkan untuk menjadi kondisi permanen. Keraguan itu seperti satu kaki yang terangkat, siap untuk melangkah maju atau mundur. Tidak ada gerakan sampai kaki itu diturunkan. Ketika kita mengalami keraguan, ambillah teladan dari Tomas. Dia tidak tinggal dalam keraguannya, tapi datang kepada Yesus dengan hati yang tulus dan jujur, dan membiarkan Yesus membawanya kepada iman (a deep and strong conviction).

HATI BAPA

Bapa mengenal kita. Dia tahu isi hati kita yang terdalam, lebih dari siapapun. Hati yang murni, bersih, tulus, dan terbuka, tidak akan diabaikanNya…

Don’t get me wrong… saya tidak bermaksud mendorong kita menjadi orang percaya yang tidak taat ataupun ragu akan Tuhan, apapun alasannya. Disiplin pasti akan ada, untuk membuat kita bertobat dan belajar. Dalam kasus Yunus, Bapa memakai ikan besar. Buat Tomas, sebuah teguran yang lembut tapi menusuk “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya”.

Let’s just be reminded, so we can rejoice and be thankful, that we have such a great and awesome Father. Mari kita bermazmur seperti Daud di Mazmur 145, mari agungkan namaNya, mari kita puji dan muliakan Dia, Bapa kita

“….Peringatan kepada besarnya kebajikan-Mu akan dimasyhurkan mereka, dan tentang keadilan-Mu mereka akan bersorak-sorai. TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya….”

Dan menyinggung tentang Fatherhood/Parenting, mari berdoa agar anak-anak kita memiliki hati yang murni, taat dan tunduk pada Tuhan, dan senantiasa percaya kepadaNya. Namun jika suatu saat mereka ragu, bahkan skeptis, atau tidak taat bahkan lari dari hadapan Tuhan, mari berdoa dan berharap agar kita memiliki hati seperti Bapa kita, juga hikmat dan kesabaranNya, untuk menuntun mereka kembali ke jalan Tuhan.

(diedit terakhir 16 Oktober 2015)

Pemuridan Berbasis Keluarga

Amanat Agung bagi gereja menurut Matius 28 adalah PENGINJILAN (evangelism) dan PEMURIDAN (discipleship), dan artikel ini berkaitan dengan aspek yang kedua.

Family-based Discipleship

Ada banyak model pemuridan yang dipraktekkan oleh gereja Tuhan, beberapa di antaranya bisa dilihat pada gambar ilustrasi sederhana di atas. Empat model yang pertama umumnya dipakai di gereja-gereja yang berbasis organisasi. Di artikel ini, kita akan melihat model yang kelima, Pemuridan Berbasis Keluarga (Family-based Discipleship), di mana orang tua (terutama bapak) menjadi kuncinya sesuai yang diajarkan firman Tuhan kepada kita.

Keluaran - Efesus

Bisa kita lihat pada gambar di samping ini, ada satu pola yang konsisten mulai dari kitab Keluaran di Perjanjian Lama sampai ke surat Efesus di Perjanjian Baru, di mana orang tua harus mengajar, mendidik dan memuridkan anak-anaknya untuk mengenal Tuhan dan jalan-jalan Tuhan.  

 

 

Keluaran Ulangan Mazmur Amsal Efesus
·   Kel 10:1-2

·   Kel 12:24-27

·   Kel 13:8

·   Kel 13:14-16 

 

  

 

·   Ul 4:9-10

·   Ul 6:4-9

·   Ul 6:20-25

·   Ul 11:18-21

·   Ul 31:12-13

·   Ul 32:45-47

·   Mzm 139:2-6
        
·   Ams 6:20-22

 

 

·   Ams 22:6     

 

 

 

·   Ef 6:4
        

Dalam ayat-ayat di Keluaran dan Ulangan pada tabel di atas, kalimat yang sering muncul adalah “ajarkan/ceritakan kepada anak cucumu”. Versi bahasa Inggrisnya akan memberikan pemahaman yang lebih jelas → “to you, your son, and your son’s son (grandson)“. Coba kita visualisasikan sesuai yang tertulis itu:

Family-based Discipleship 1Jika kita visualisasikan apa yang sebenarnya Tuhan inginkan di kitab Keluaran dan Ulangan itu, maka seorang anak akan diajar/ dididik/ dimuridkan langsung oleh kedua orang tuanya (busur merah) dan didukung oleh semua kakek-neneknya (busur hijau). Maka menurut desainnya Tuhan, satu orang anak akan dimuridkan oleh 6 orang dewasa rohani, orang-orang yang mengenal dan melayani Tuhan. Wooowww…!!!

Itulah model pengajaran/ pemuridan yang didesain oleh Allah sendiri. But to be honest, apakah model seperti itu yang kita praktekkan sekarang ini? Sesuatu yang sangat jarang kita temukan, bahkan di keluarga-keluarga yang aktif dalam pelayanan! Yang kebanyakan dilakukan oleh keluarga-keluarga Kristen adalah menyerahkan pemuridan anak-anaknya kepada orang lain/ institusi lain.

Kita telah menyimpang jauh dari rencana Allah yang sempurna

Dalam artikel ini, dan juga secara keseluruhan di website ini, aspek-aspek berikut akan sering kita lihat, karena kami percaya inilah komponen-komponen penting dari model Pemuridan Berbasis Keluarga (family-based discipleship):

  • Orang tua (terutama bapak) memiliki dasar penafsiran/ pemahaman firman Tuhan yang kuat, dan “terdidik dalam soal-soal pokok iman kita dan dalam ajaran sehat” (1 Tim 4:6→ erat kaitannya dengan artikel Teologi dan materi Hermeneutika di page Teologi Biblika, dan sebagian besar materi yang ada di website ini
  • Biblical Parenting → seperti yang bisa kita baca di page Parenting, didefinisikan sebagai “Parenting toward Christ-likeness“, proses parenting yang tujuan akhirnya adalah keserupaan dengan Kristus
  • Hubungan pernikahan yang kuat (strong marriage) sebagai dasar keluarga → suami berfungsi sebagai imam/pemimpin yang mengasihi istri, istri sebagai penolong dan tunduk pada suami (Ef 5:22-33), suami-istri saling memuridkan (husband-wife discipleship)
  • Keluarga memuridkan keluarga (family-to-family discipleship) → memiliki jaringan yang saling membangun (networking), hidup berjemaat dalam pola komunitas (community-based lifestyle), kata “SALING” yang menjadi kuncinya di sini (saling mengajar, saling menegur, saling mengingatkan, saling menundukkan diri)

Berikut adalah beberapa hasil survey yang menghancurkan hati kita yang membacanya (sumber: GotQuestionBarna research, Cold-case Christianity)

  • less than 1 percent of the young adult population in the United States has a biblical worldview
  • less than one half of one percent of Christians between the ages of 18 and 23 has a biblical worldview
  • two studies conducted by both the Barna Group and USA Today, found that nearly 75 percent of Christian young people leave the church after high school → One of the key reasons they do so is intellectual skepticism. This is a result of our youth not being taught the Bible in their homes or in church. Statistics show that our kids today spend an average of 30 hours per week in public schools where they are being taught ideas that are diametrically opposed to biblical truths, e.g., evolution, the acceptance of homosexuality, etc. Then they come home to another 30 hours per week in front of a TV bombarded by lewd commercials and raunchy sitcoms or “connecting” with friends on Facebook, staying online for hours, chatting with one another, or playing games. Whereas the time spent weekly in the church Bible classroom is 45 minutes. It’s no wonder that our young people leave the home without a Christian worldview. Not only are they not being well-grounded in the faith, but they’re also not being taught to intelligently examine the views of the skeptics who will inevitably challenge their faith.
  • nearly three out of every five young Christians (59%) disconnect either permanently or for an extended period of time from church life after age 15
  • Data from the Southern Baptist Convention indicates that they are currently losing 70-88% of their youth after their freshman year in college. 70% of teenagers involved in church youth groups stop attending church within two years of their high school graduation.
  • Southern Baptist Council on Family Life report to Annual Meeting of the Southern Baptist Convention (2002) → 88% of the children in evangelical homes leave church at the age of 18
  • Barna study → A majority of twenty-somethings (61% of today’s young adults) had been churched at one point during their teen years but they are now spiritually disengaged.
  • Assemblies of God Study → At least half and possibly over two-thirds of Christian young people will step away from the Christian faith while attending a non-Christian college or university. Between 50% and 66.7% of Assemblies of God young 
people who attend a non-Christian public or private university will have left the faith 
four years after entering college
  • LifeWay Research Study → 70% will leave the faith in college. Only 35% eventually return. 7 in 10 Protestants ages 18 to 30 – both evangelical and mainline – who went to church regularly in high school said they quit attending by age 23. 34% of those said they had not returned, even sporadically, by age 30. That means about one in four Protestant young people have left the church.

Apa yang akan kita baca di artikel aslinya, maupun di buku atau website yang membahas hasil survey itu, adalah pentingnya peran keluarga dalam pembangunan iman seorang anak.

It’s time to rethink WHAT and HOW we disciple our children…

maybe it’s time to go back to God’s very own design…

FAMILY-BASED DISCIPLESHIP

Renungan Keluarga Setahun

Membangun keluarga merupakan kehendak Tuhan bagi manusia sejak semula. Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa, “tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja”. Oleh karena itu, ketika Tuhan menjadikan penolong bagi Adam, sebenarnya Dia sedang membangun keluarga.

Tetapi, ketika manusia jatuh kedalam dosa, maka manusia tidak lagi membangun keluarga menurut rencana Tuhan semula. Keluarga menurut rencana Tuhan semula menjadi samar-samar dan sulit dipahami oleh manusia yang telah jatuh dalam dosa. Manusia telah menyimpang dari rencana Tuhan semula.

Tetapi, puji Tuhan! Kita sebagai gerejaNya, kembali diizinkan melihat rencana Tuhan semula tentang keluarga. Memang membangun keluarga seperti rencana Tuhan semula tidaklah mudah. Sesungguhnya, hanya Tuhanlah yang dapat membangun keluarga seperti yang direncanakanNya semula. Oleh anugerahNya, kita dimampukan utk bekerja sama denganNya dalam membangun keluarga.

Menyadari bahwa membangun keluarga bukanlah hal yg mudah, maka kami tergerak berbagi dengan saudara/i seiman mengenai topik-topik yang singkat tentang membangun keluarga. Karena itu, kami mempublikasikan renungan keluarga setahun dalam website ini.

Untuk mendapatkan hasil yg maksimal, kami sarankan agar tulisan ini sebaiknya dibaca secara cepat sekaligus sampai selesai. Kemudian dibaca satu topik setiap pagi untuk menjadi renungan di hari itu. Dengan cara seperti ini, kita mengizinkan firman Tuhan meresap kedalam hati kita. Semoga Tuhan memberkati renungan ini sehingga kita menjadi keluarga seperti yang direncanakanNya semula. Amin.

Renungan Keluarga Setahun selengkapnya dapat didownload di sini atau di sini.