Renungan Keluarga Setahun

Membangun keluarga merupakan kehendak Tuhan bagi manusia sejak semula. Tuhan sendiri yang mengatakan bahwa, “tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja”. Oleh karena itu, ketika Tuhan menjadikan penolong bagi Adam, sebenarnya Dia sedang membangun keluarga.

Tetapi, ketika manusia jatuh kedalam dosa, maka manusia tidak lagi membangun keluarga menurut rencana Tuhan semula. Keluarga menurut rencana Tuhan semula menjadi samar-samar dan sulit dipahami oleh manusia yang telah jatuh dalam dosa. Manusia telah menyimpang dari rencana Tuhan semula.

Tetapi, puji Tuhan! Kita sebagai gerejaNya, kembali diizinkan melihat rencana Tuhan semula tentang keluarga. Memang membangun keluarga seperti rencana Tuhan semula tidaklah mudah. Sesungguhnya, hanya Tuhanlah yang dapat membangun keluarga seperti yang direncanakanNya semula. Oleh anugerahNya, kita dimampukan utk bekerja sama denganNya dalam membangun keluarga.

Menyadari bahwa membangun keluarga bukanlah hal yg mudah, maka kami tergerak berbagi dengan saudara/i seiman mengenai topik-topik yang singkat tentang membangun keluarga. Karena itu, kami mempublikasikan renungan keluarga setahun dalam website ini.

Untuk mendapatkan hasil yg maksimal, kami sarankan agar tulisan ini sebaiknya dibaca secara cepat sekaligus sampai selesai. Kemudian dibaca satu topik setiap pagi untuk menjadi renungan di hari itu. Dengan cara seperti ini, kita mengizinkan firman Tuhan meresap kedalam hati kita. Semoga Tuhan memberkati renungan ini sehingga kita menjadi keluarga seperti yang direncanakanNya semula. Amin.

Renungan Keluarga Setahun selengkapnya dapat didownload di sini atau di sini.

 

Artikel-artikel Singkat

Firman dan Roti

Ketika Yesus berkata bahwa manusia hidup bukan dari roti saja melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah, maka kita dapat memastikan bahwa seluruh kebutuhan manusia dapat dikategorikan menjadi kebutuhan akan firman dan kebutuhan akan roti. Roti yang dimaksud disini tentu bermakna luas. Segala kebutuhan jasmani manusia, yaitu makan, minum, pakaian, rumah dan yang lainnya, sudah termasuk dalam pengertian roti disini.

Manusia tidak dapat hidup dari roti saja, demikian juga manusia tidak dapat hidup dari firman saja. Manusia hanya dapat hidup normal jika kebutuhannya akan firman dan roti terpenuhi. Jika salah satu dari kebutuhannya tidak terpenuhi, maka akan terlihat gejala-gejala kurang sehat pada diri manusia. Apabila manusia mengalami kegelisahan, stress, kuatir, takut, bahkan sampai tidak bisa tidur, maka gejala ini terjadi karena kebutuhannya akan firman Tuhan kurang terpenuhi atau bahkan tidak terpenuhi sama sekali. Banyak orang menyangka jika kita mengalami kegelisahan, stress, takut, kuatir, maka itu adalah sesuatu yang normal selama kita hidup didunia ini. Orang yang berpendapat demikian kurang menyadari bahwa semua gejala itu sebenarnya adalah karena kebutuhan manusia akan firman tidak terpenuhi. Sama seperti jika manusia kekurangan roti ( gizi ) maka akan terlihat gejala-gejalanya, demikian juga jika manusia kekurangan firman Tuhan maka akan terlihat juga gejala-gejalanya seperti yang telah kita uraikan diatas. Hal ini perlu kita perhatikan.

Oleh sebab itu, jika manusia ingin hidup normal dan berbahagia, maka ia harus memperhatikan kebutuhannya akan firman dan juga roti. Manusia harus mencari firman dan roti agar dapat hidup sehat. Sekarang masalahnya adalah, mana yang harus didahulukan ? Sebenarnya pertanyaan ini sangat mudah dijawab, karena Yesus berkata dalam Matius 6:33, “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu “. Tetapi jika direnungkan lebih dalam lagi, maka masalahnya tidaklah begitu sederhana seperti yang kita duga. Mari kita renungkan pertanyaan-pertanyaan berikut. Apakah para pelayan Tuhan yang biasa disebut pelayan Tuhan sepenuh waktu itu, sudah mendahulukan firman dari pada roti ? Bagaimana jika ia terjun keladang Tuhan, semata-mata karena ia gagal terjun dalam bidang-bidang yang lainnya. Atau mungkin ia tergerak terjun diladang Tuhan, tetapi bukankah Alkitab pernah mencatat mengenai orang-orang Farisi ( yang jika kita terapkan untuk situasi saat ini dapat dipandang sebagai orang-orang yang terjun diladang Tuhan sepenuh waktu ), namun dinyatakan sebagai hamba-hamba uang [ Lukas 16:14 ]. Dan sebaliknya, bagaimana dengan orang-orang yang bekerja seharian mencari uang, namun memberi sebagian, bahkan sebagian besar uangnya untuk pekerjaan Tuhan dengan sukarela dan sepenuh hati ? Siapa yang mendahulukan firman, dan siapa yang mendahulukan roti ?

Nampaknya, hanya Tuhan yang tahu siapa dari anak-anakNya yang mendahulukan firman dari pada roti. Kalau kita melihat dari luar saja, kita tidak dapat mengetahui apakah orang itu mendahulukan firman atau roti. Para pelayan Tuhan sepenuh waktu, belum tentu mendahulukan firman. Demikian juga orang-orang yang bekerja didunia “sekuler”, belum tentu mengutamakan roti dalam hidupnya. Biarlah semua ini kita serahkan kepada Tuhan yang dapat menilai dengan benar. Bagian kita adalah tetap menjaga hati kita sendiri agar tetap terpaut kepada Tuhan, sebab Alkitab berkata, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah sumber kehidupan”.

Di dalam Alkitab, ada satu contoh yang sangat baik mengenai orang yang mendahulukan firman, dan juga orang yang lebih mengutamakan roti. Contoh ini terdapat dalam kitab Rut. Kita akan melihat kehidupan dua orang, yaitu Elimelekh dan Rut.

Di dalam kitab Rut, diceritakan bahwa Elimelekh beserta keluarganya ( isterinya Naomi dan kedua anak laki-lakinya, Mahlon dan Kilyon ), berangkat ketanah Moab karena ada kelaparan di tanah Israel ( Rut 1:1-2 ). Elimelekh pergi ke tanah Moab dalam upayanya mencari roti. Tindakan Elimelekh ini sangat berbahaya. Mengapa ? Karena Tuhan telah memberikan tanah perjanjian kepada bangsa Israel, agar bangsa Israel menetap di tanah yang diberikan Tuhan baginya, supaya dengan demikian Israel dapat diperintah oleh Tuhan sendiri. Tindakan Elimelekh pergi dari tanah Israel berarti meninggalkan pemerintahan Tuhan atas dirinya, dan juga keluarganya. Elimelekh dan keluarganya menjadi terlepas dari perlindungan Tuhan, dan dapat dengan mudah diserang Iblis. Dan memang demikian kenyataannya. Elimelekh sendiri mati di tanah Moab, dan juga kedua anaknya laki-laki ( Rut 1:3-5 ). Maka yang tinggal dari keluarganya hanyalah isterinya, Naomi dan kedua menantunya, Rut dan Orpa. Naomi menyadari bahwa apa yang menimpa keluarganya merupakan disiplin Tuhan, sebab ia berkata, “Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku…” ( Rut 1:21 ).

Daud sendiri telah berkata dalam Mazmurnya, “…diamlah di negeri dan berlakulah setia” ( Mazmur 37:3 ). Daud juga pernah meninggalkan tanah Israel untuk menghindar dari kejaran Saul ( I Samuel 27:1 ). Tetapi tindakannya ini justru membawa dia kedalam krisis di Ziglag ( I Samuel 30:1-6 ). Dari pengalamannya inilah Daud menulis Mazmur 37:3 yang telah kita kutip diatas. Daud telah belajar bahwa lebih baik diam di tanah yang diberikan Tuhan dan berada didalam perlindunganNya, sekalipun ada masalah (dalam hal ini pengejaran Saul), dari pada melarikan diri ke negeri asing yang nampaknya aman namun pada akhirnya mendatangkan krisis yang besar.

Elimelekh telah gagal untuk dengan setia diam di negeri Israel, sekalipun ada kelaparan. Elimelekh mendahulukan “roti” ( kebutuhan jasmani ), dari pada taat pada firman Tuhan yang tertulis dalam Mazmur 37:3. Akibatnya sangat menyedihkan, bukan saja bagi dirinya, tetapi juga bagi keluarganya.

Berbeda dengan Rut, yang bertindak mendahulukan firman dari pada roti. Rut berkata kepada Naomi, mertuanya, “…bangsamulah bangsaku, dan Allahmulah Allahku “( Rut 1:16). Rut rela meninggalkan bangsanya dan para allah orang Moab, demi mengikuti Allah Israel. Sebenarnya, tindakan Rut ini membahayakan kehidupan lahiriahnya. Sebagai bangsa asing, Rut tidak akan dihargai ditanah Israel. Apalagi ia telah menjadi janda. Sebagai orang yang tidak dihargai ditanah Israel, Rut akan sulit mencari nafkah apalagi menikah dan membangun keluarga. Tetapi karena Rut mengutamakan firman dari pada roti, maka Allah Israel memperhatikannya. Pada akhirnya, Rut menikah dan bahkan menurunkan Mesias melalui Daud ( Rut 4:21-22 ).

Kehidupan Rut sangat berbeda dengan Elimelekh. Rut, sebagai janda bangsa asing yang tidak memiliki masa depan, namun karena mengutamakan firman, maka diangkat Tuhan sebagai salah satu perempuan yang menurunkan Mesias. Sebaliknya Elimelekh, sebagai orang Israel yang cukup dikenal didaerahnya, tetapi karena mengutamakan roti dari pada firman, akhirnya mati secara menyedihkan dinegeri asing.

Semua ini menjadi pelajaran bagi kita agar kita mengutamakan firman Tuhan dari pada roti. Carilah dahulu Kerjaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu ( kebutuhan jasmani kita) akan ditambahkan bagi kita. Semua ini persoalan hati kita. Apakah hati kita mencintai dunia ini ataukah mencintai Tuhan ? Tidak salah mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kita, tetapi harus mengutamakan Tuhan diatas segalanya. Amin.