Hermeneutika

Hermeneutika #1 – Sebuah Pergumulan

A book that can mean anything, means nothing

~ Gordon Fee ~

Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik

~ Rasul Paulus ~

Mungkin pergumulan saya bisa terwakili oleh kata-kata dari Gordon Fee dan Rasul Paulus di atas. Saya mau bagikan apa yang saya gumulkan, yang bisa jadi adalah pergumulan Anda juga:

  • Ketika mendengarkan khotbah atau seminar atau kelas pengajaran atau sejenisnya, tidak jarang sebuah topik/subjek diartikan secara berbeda bahkan kontradiktif antara pembicara yang satu dengan yang lain, dan semua mengklaim mendapatkan wahyu dari Roh Kudus. Apakah memang demikian adanya, bahwa Roh Kudus memberikan pewahyuan/pengertian yang berbeda kepada tiap-tiap orang? Ataukah manusianya yang terlalu berani mengklaim?
  • Jarang sekali ada kesempatan untuk memverifikasi secara langsung kepada pembicara terkait materi yang diberikan. Tidak jarang seorang pembicara hanya datang satu kali, berbicara 30 menit atau 1 jam, lalu mungkin tidak akan bertemu lagi, sambil meninggalkan jemaat yang kebingungan sendiri karena apa yang disampaikan berbeda atau kontradiktif dengan yang selama ini diajarkan kepada jemaat oleh gembala lokal.
  • Pada saat yang sama, dalam kebingungan dan ketidakpuasan saya, ternyata saya sendiri tidak punya kemampuan untuk menguji atau menyaring semua informasi yang saya dapatkan baik dari khotbah atau seminar atau buku atau artikel. Pemimpin rohani saya belum pernah memperlengkapi saya bagaimana harus menafsirkan/memahami firman Tuhan. “Back to the Bible aja” atau “Tanya Roh Kudus”, kira-kira begitulah dulu saya diajari. The fact is, everyone claims to speak as the Bible says, everyone claims that God speaks through them, but still …. they disagree with each other.
  • Secara pribadi saya merasakan desakan yang kuat, karena sekarang saya punya keluarga. Saya seorang suami bagi istri saya dan bapak bagi anak-anak saya. Saya seorang imam, pemimpin di dalam keluarga . I must feed them the Word. I must lead them to the Truth. But deep down I now, I don’t have what it needs.

…HE works in ways we cannot see, HE will make a way for me….

…GOD is good all the time, and all the time, GOD is good…

~ Don Moen ~

GOD is good, and HE always make a way. Saya sedang searching ini-itu di G**gle, mencari apa saja yang menarik di Y**tube, dan tanpa di sengaja saya menemukan ebook yang menarik, termasuk video seminar dengan judul Seminar Penafsiran Alkitab (dalam bahasa Inggris). Penulis/pembicaranya adalah Bob Utley, seorang Guru Besar Hermeneutika, yang memiliki passion untuk memperlengkapi orang-orang percaya agar dapat mandiri dalam penafsiran/ pemahaman Alkitab yang bertanggung jawab.

Singkat cerita saya download ebook-nya, saya download file audio dan videonya dari website ini. Saya baca. Saya dengarkan. Saya tonton. This is it…this is what I miss in my Christian life. Sudah hampir setahun sejak pertama kali saya serius mendalami Hermeneutika, dan mencoba mempraktekkannya dalam pendalaman firman Tuhan. Saya tidak mengklaim bahwa saya sudah ahli dalam bidang ini. I have just taken few steps on the path that I believe every Christian should take. Saya akan bagikan apa yang saya renungkan dan pahami tentang topik ini dalam seri artikel Hermeneutika di section Blog di website ini.

(diedit terakhir 1 Juli 2015)

Allah Berfirman dalam Bahasa Manusia (1)

The Bible is the Word of God given in the words of men in history.

~ George E. Ladd ~

The Bible is written in normal, non-technical human language. Its focus is the obvious, normal meaning of words, clauses, sentences.

~ Silva ~

Ketika membaca firman Tuhan di Alkitab, entah sadar entah tidak, sering kita melupakan fakta ini, bahwa: Allah yang Maha Segalanya yang tidak akan sanggup dipahami dengan pikiran manusia kita, memutuskan untuk menyatakan diriNya dan rencanaNya DALAM BAHASA CIPTAAN-Nya (bahasa manusia), bukan dalam bahasa ilahi antaroknum Trinitas, dan bukan dalam bahasa malaikat.

Hal ini adalah sebuah fakta yang penting dalam usaha kita (yang bergantung pada urapan Roh Kudus tentunya) memahami firmanNya di Alkitab. Fakta ini menurut saya paling tidak memiliki dua konsekuensi:

  • yang pertama adalah bahwa setiap kita secara pribadi, sebagai manusia normal, dapat memahami firman Tuhan sebagaimana yang dimaksudkan oleh Tuhan, dan tidak tergantung pada figur atau institusi tertentu
  • di sisi lain, karena firman Tuhan ini disampaikan dalam konteks komunikasi antarmanusia yang normal (walaupun isi pesannya supranatural), maka penafsiran akan MAKNA yang terkandung di dalamnya harus mengikuti kaidah-kaidah yang normal pula yang berlaku dalam proses komunikasi yang normal. Mengenai hal ini akan lebih jelas setelah membaca keseluruhan artikel ini.

Di bawah ini kita akan melihat dua aspek yang sangat biasa/normal dalam hidup keseharian kita, yang justru saking biasa/normalnya maka sering kita melupakannya, we take them for granted, padahal 2 hal tersebut Tuhan sediakan agar kita mampu memahami firmanNya.

ASPEK KOMUNIKASI

Kita akan coba mencermati teori komunikasi pada level yang paling dasar. Perhatikan model komunikasi di bawah ini:

Communication model

 

Ada beberapa elemen penting dalam komunikasi:

  1. Sumber/source/encoder → pengirim pesan/ide/informasi; dalam konteks penulisan Alkitab adalah para penulis asli (inspired authors) yang mendapat inspirasi dari Roh Kudus
  2. Encoding → proses penggunaan kode-kode (kata-kata, simbol, gambar, dll) untuk menyampaikan pesan/ide/informasi; dalam konteks penulisan Alkitab adalah bahasa Ibrani Kuno, bahasa Aram dan bahasa Yunani
  3. Pesan/Message → ide, informasi, konsep, pernyataan, yang dikirimkan oleh pengirim kepada penerima; dalam konteks penulisan Alkitab adalah firman/kebenaran Tuhan
  4. Media/Channel → alat bantu yang digunakan untuk menyampaikan pesan seperti surat, internet, radio, dll; dalam konteks penulisan Alkitab adalah surat atau dokumentasi tertulis lain yang ditulis pada kertas papirus, kulit binatang, dll
  5. Decoding → proses menafsirkan/mengartikan kode-kode yang disampaikan melalui media komunikasi sehingga maknanya bisa dipahami oleh si penerima pesan sesuai dengan maksud si pengirim pesan; peran Hermeneutika ada di sini
  6. Penerima/Receiver/Decoder → pihak yang melakukan proses decoding dan menjadi tujuan dari pengiriman pesan; bangsa Israel dan jemaat mula-mula adalah penerima asli dari penulisan firman Tuhan
  7. Tanggapan/Feedbackproses menanggapi pesan yang disampaikan, untuk memastikan bahwa si penerima telah menerima dan memahami pesan yang disampaikan sesuai yang dimaksud oleh si pengirim agar tidak terjadi miskomunikasi, hal inilah yang menentukan keberhasilan sebuah proses komunikasi
  8. Konteks/Context → proses komunikasi tidak berlangsung di ruang hampa tapi dalam sebuah lingkungan yang memungkinkan elemen-elemen di atas berfungsi dengan semestinya, lingkungan ini yang disebut konteks yang diantaranya mencakup: tempat, waktu, karakteristik pengirim dan penerima, kejadian, situasi, budaya, dll, dan konteks bukan hanya elemen memungkinkan terjadinya komunikasi tetapi juga sangat menentukan makna/arti dari pesan
  9. Gangguan/Noise/Interference → setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan; dalam konteks pemahaman Alkitab dapat berupa hambatan bahasa, sejarah, budaya, presuposisi, dll

Ketika kita membaca Alkitab kita untuk memahami firman Tuhan, kita sedang melakukan proses DECODING, dan tujuannya adalah agar kita bisa mengerti/memahami MAKNA yang terkandung dalam tulisan-tulisan firman Tuhan tersebut. Pertanyaannya, di manakah “makna” itu bisa kita temukan?

Dengan asumsi bahwa 1) tidak ada noise dalam proses komunikasi, 2) penulis dan penerima memiliki konteks yang sama, 3) tidak ada kerusakan pada media yang digunakan, dan 4) tidak ada kesalahan pada kode yang digunakan (misal: tidak ada salah tulis dalam surat yang dikirim), maka “makna” dapat kita temukan pada:

  • pikiran si penulis firman Tuhan → “maksud dari si penulis” atau intended meaning atau authorial intent
  • teks firman Tuhan
  • pikiran si penerima asli tulisan firman Tuhan

Dari sudut pandang penerima asli (dalam hal ini sebagai pihak kedua), makna/arti bisa mereka temukan di 2 tempat: pikiran si penulis dan teks yang ada. Hal ini sangat jelas dan logis, karena sebelum ada teks yang mengandung makna, si penulis terlebih dahulu harus memiliki maksud yang ingin disampaikan (intended meaning atau authorial intent). Dari sudut pandang pembaca kontemporer (dalam hal ini sebagai pihak ketiga, seperti kita di abad 21 ini), makna/arti bisa kita temukan di 3 tempat di atas.

Dalam kondisi yang ideal, 3 hal itu (penulis-teks-penerima) idealnya dipertemukan agar si penulis bisa mengklarifikasi pesan yang dia sampaikan, dan si penerima bisa mengklarifikasi pemahamannya akan pesan yang dia terima dan memberi tanggapan. Jika hal ini bisa terjadi, maka makna yang terkandung bisa dipahami sepenuhnya. Sayangnya, kondisi ideal tersebut mustahil bagi kita yang hidup di abad 21 (atau dapat saya katakan, mulai pertengahan abad ke 3). Dua elemen utama yaitu penulis (SENDER) dan penerima asli Alkitab (RECEIVER), bisa dikatakan sudah tidak ada lagi, sehingga tidak mungkin kita menanyakan apa maksud si penulis dan bagaimana pemahaman si penerima tentang pesan firman Tuhan yang disampaikan itu. Yang ada pada kita saat ini hanya tinggal elemen MESSAGE, yang sayangnya juga bukan terdapat pada media yang asli, tapi SALINAN DARI SALINAN dan TERJEMAHAN DARI SALINAN TULISAN firman Tuhan. Atau bisa dikatakan bahwa untuk memahami “makna” firman Tuhan, elemen yang tersisa yang bisa kita gunakan hanya tinggal TEKS firman Tuhan. Dari teks inilah kita berusaha mengerti konteks (tempat, waktu, karakteristik pengirim dan penerima, kejadian, situasi, budaya, dll), dan seperti yang sudah ditulis di atas, dari konteks inilah kita menemukan MAKNA.

Karena hanya TEKS yang kita miliki saat ini, maka aspek kedua di bawah ini menjadi sangat penting.

ASPEK LINGUISTIK/BAHASA

Saya berasumsi bahwa Anda yang membaca artikel ini paling tidak sudah lulus SD atau SMP, dan hal-hal yang akan kita lihat di bawah ini bukan hal asing. Tapi sekali lagi, we take them for granted pada saat kita membaca firman Tuhan di Alkitab.

Cabang linguistik yang mempelajari arti/makna yang terkandung pada suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lain adalah Semantik. Dengan kata lain, Semantik adalah ilmu tentang makna; studi tentang makna yang digunakan untuk memahami ekspresi manusia melalui bahasa. Semantik biasanya dikaitkan dengan dua aspek lain: sintaksis dan pragmatika.

Coba kita lihat bagan di bawah ini, yang menggambarkan satuan kebahasaan dan disiplin ilmu yang mempelajarinya:

Bagan Linguistik
Kita semua mempelajari hal-hal ini dalam pelajaran Bahasa Indonesia di SD dan SMP, dan semuanya bisa kita pakai untuk membantu kita memahami firman Tuhan. Mari kita mengingatnya kembali:
  • Morfologi
    • Cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata. Atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatikal maupun fungsi semantik
    • Ilmu ini yang dipakai oleh para ahli bahasa untuk menerjemahkan bahasa asli Alkitab, bagi kita yang ingin mempelajari teks asli maka pengetahuan tentang morfologi akan sangat membantu
    • Prinsip yang praktis yang bisa kita pegang dan terapkan adalah bahwa sebuah kata tidak bisa berdiri sendiri, sebuah kata bisa memiliki makna JIKA DAN HANYA JIKA ada di dalam sebuah kalimat
  • Sintaksis
    • Ilmu mengenai prinsip dan peraturan untuk membuat kalimat dalam bahasa alami, juga digunakan untuk merujuk langsung pada peraturan dan prinsip yang mencakup struktur kalimat dalam bahasa apapun, secara singkat ilmu yang mempelajari struktur kalimat
    • Di sekolah kita belajar tentang kata penghubung, tentang fungsi subjek-predikat-objek dalam sebuah kalimat, tentang klausa utama dan klausa pendukung, dll. Hal-hal tersebut mempengaruhi arti. Kata “supaya” dan “karena” bila tidak tepat penggunaannya, dapat mengubah arti sebuah kalimat
    • Hal praktis yang bisa kita terapkan, dan seingat saya pernah kita latih di sekolah, adalah mencari inti dari sebuah kalimat. Tidak semua bagian kalimat adalah inti, ada bagian yang utama dan ada bagian pendukung, dan biasanya bisa kita tentukan dari kata penghubungnya
  • Analisis wacana
    • Ilmu yang mempelajari bagaimana unsur-unsur bahasa digunakan dalam berbagai wacana dalam kehidupan sehari-hari (dalam dialog, surat, rapat, pengadilan, dll). Wacana bukan sekedar kumpulan kalimat atau paragraf melainkan sebuah struktur yang utuh (unity) dan padu (coherent). Wacana dikatakan utuh jika kalimat atau paragraf yang tersusun mendukung satu topik yang sedang dibahas. Wacana dikatakan padu jika antarkalimat atau paragraf memiliki aliran yang sistematis dan memiliki ikatan timbal balik.
    • Prinsip yang praktis yang bisa kita pegang dan terapkan adalah BERPIKIR SECARA PARAGRAF. Sebuah kalimat di Alkitab tidak bisa berdiri sendiri, sebuah kalimat bisa memiliki makna JIKA DAN HANYA JIKA ada di dalam sebuah paragraf dan wacana (pasal, buku). Tidak bisa sebuah kalimat (ayat) dicomot terpisah dari konteks paragraf/wacananya, karena pasti maknanya akan melenceng dari maksud aslinya. Lalu dalam satu paragraf, ada inti dan ada pendukung, di sekolah seingat saya kita pernah dilatih bagaimana melakukannya. Kita perlu mengingat hal ini supaya kita tidak tersesat pada hal-hal detail dan kehilangan makna utamanya.
  • Pragmatika
    • Cabang ilmu linguistik yang mempelajari hubungan antara konteks dan makna. Ilmu ini mempelajari bagaimana penyampaian makna tidak hanya bergantung pada pengetahuan linguistik (tata bahasa, leksikon, dll) dari pembicara dan pendengar, tapi juga dari konteks penuturan, pengetahuan tentang status para pihak yang terlibat dalam pembicaraan, maksud tersirat dari pembicara
    • Ilmu yang mempelajari bagaimana unsur-unsur di luar bahasa (konteks) sangat mempengaruhi tuturan/ujaran (utterance) yang digunakan manusia
    • Yang perlu kita ingat adalah KONTEKS…KONTEKS…dan KONTEKS, baik konteks literatur maupun konteks sejarah

Aspek bahasa yang lain adalah apa yang kita kenal dengan MAJAS atau IDIOM atau figures of speech. Menurut KBBI, majas didefinisikan “cara melukiskan sesuatu dng jalan menyamakannya dng sesuatu yg lain; kiasan“. Definisi idiom adalah “konstruksi yang maknanya tidak sama dengan gabungan makna unsurnya; bahasa dan dialek yang khas menandai suatu bangsa, suku, kelompok, dll“.

Majas dan idiom adalah unsur bahasa yang normal yang ada pada setiap bahasa di dunia. Dan karena firman Tuhan disampaikan kepada manusia dalam bahasa manusia, maka tidak aneh jika majas dan idiom bisa kita temukan di banyak bagian di Alkitab. Mari kita kembali mengingat-ingat apa yang pernah kita pelajari di sekolah:

  • Alegori: Menyatakan dengan cara lain, melalui kiasan atau penggambaran
  • Simile: Pengungkapan dengan perbandingan eksplisit yang dinyatakan dengan kata depan dan penghubung, seperti layaknya, bagaikan, ” umpama”, “ibarat”,”bak”, bagai”.
  • Metafora: Gaya Bahasa yang membandingkan suatu benda dengan benda lain karena mempunyai sifat yang sama atau hampir sama
  • Hiperbola: Pengungkapan yang melebih-lebihkan kenyataan sehingga kenyataan tersebut menjadi tidak masuk akal.
  • Personifikasi: Pengungkapan dengan menggunakan perilaku manusia yang diberikan kepada sesuatu yang bukan manusia.
  • Parabel: Ungkapan pelajaran atau nilai tetapi dikiaskan atau disamarkan dalam cerita.
  • Simbolik: Melukiskan sesuatu dengan menggunakan simbol atau lambang untuk menyatakan maksud
  • Sarkasme: Sindiran langsung dan kasar.
  • Satire: Ungkapan yang menggunakan sarkasme, ironi, atau parodi, untuk mengecam atau menertawakan gagasan, kebiasaan, dll.
  • Repetisi: Perulangan kata, frasa, dan klausa yang sama dalam suatu kalimat.
  • Paralelisme: Pengungkapan dengan menggunakan kata, frasa, atau klausa yang sejajar.
  • Tautologi: Pengulangan kata dengan menggunakan sinonimnya.
  • Retoris: Ungkapan pertanyaan yang jawabannya telah terkandung di dalam pertanyaan tersebut.
  • Paradoks: Pengungkapan dengan menyatakan dua hal yang seolah-olah bertentangan, namun sebenarnya keduanya benar
  • Antitesis: Pengungkapan dengan menggunakan kata-kata yang berlawanan arti satu dengan yang lainnya.

Prinsip yang praktis yang bisa kita pegang dan terapkan adalah bahwa

  1. kita perlu awas dengan keberadaan suatu idiom dalam ayat-ayat firman Tuhan yang kita baca
  2. sebuah idiom tidak bisa serta merta ditafsirkan secara harafiah karena pasti akan melenceng dari makna yang dimaksud penulis asli, konteks literatur dan konteks sejarah perlu dipertimbangkan dalam menafsirkannya

(diedit terakhir pada 30 Juni 2015)