Soteriologi

 I. Pendahuluan

Di dalam Efesus 1:3-14, kita dapat melihat bagaimana Allah Tritunggal bekerja dalam program penyelamatan Umat pilihanNya. Allah Bapa telah memilih kita sebelum dunia dijadikan (ayat 4). Allah Anak, melalui darah pengorbananNya di kayu salib, telah mengampuni segala dosa kita serta memberikan kepada kita penebusan sempurna (ay. 7). Allah Roh Kudus sendiri telah menjadi jaminan / panjar / “uang muka” atau “dp”, dimana pada saatnya kelak kita menerima seluruh warisan keselamatan kita (ayat 14). Jadi, kita melihat bagaimana Allah Tritunggal bekerja bersama-sama menggenapkan rencana penyelamatanNya bagi Umat pilihanNya.
Pada umumnya anak-anak Tuhan menggunakan istilah Tritunggal untuk menjelaskan Allah yang bermanifestasi sebagai Bapa, Anak, dan Roh. Tetapi, didalam pelajaran ini, kita akan menggunakan istilah Keluarga atau Keluarga Sejati untuk menjelaskan Allah yang termanifestasi sebagai Bapa, Anak, dan Roh.
Pewahyuan Allah adalah Keluarga dimulai dalam Kitab Kejadian 1:2, dimana tertulis, “…Roh Allah melayang-layang diatas permukaan air”. Kata melayang-layang biasanya dipakai untuk melukiskan seekor burung yang sedang mengerami telur atau anak-anaknya yang masih kecil didalam sarangnya. Hal ini berbicara mengenai Allah yang termanifestasi sebagai ibu. Demikian juga dengan lahir dari Roh, suatu istilah yang muncul didalam PB, juga mengungkapkan Allah yang termanifestasi sebagai ibu.
Selain itu, Allah yang termanifestasi sebagai ibu juga terungkap didalam Nama El Shaddai. Nama El Shaddai adalah Nama gabungan yang terdiri dari El, yang berarti Pencipta yang perkasa, dan Shaddai, yang berarti Maha Kuasa. Tetapi istilah Shaddai dan istilah Shad, walaupun dua kata yang berbeda namun bermakna sama yaitu buah dada (seperti dalam Kej. 49:25, Ayub 3:12, dan Maz. 22:10). Jadi, El Shaddai adalah Allah yang Maha Kuasa yang menyediakan kebutuhan UmatNya, seperti seorang Ibu yang menyusui anaknya.
Sementara itu, pewahyuan Allah yang termanifestasi sebagai Bapa dan Anak telah diperkenalkan oleh Yesus kepada para pemimpin agama Yahudi, yang tercatat terutama didalam Injil Yohanes. Bagi para pemimpin Yahudi, pernyataan Yesus yang menegaskan bahwa Allah adalah BapaNya, sama dengan menyatakan bahwa diriNya adalah juga Allah (Yoh. 10:33 ). Dan Yesus dengan tegas menyatakan bahwa Ia adalah Anak Allah. Jadi, baik Allah sebagai Bapa, maupun Allah sebagai Anak, telah dinyatakan oleh Yesus.
Penggunaan istilah Keluarga didalam soteriologi juga sangat tepat, karena ternyata tujuan Bapa didalam pemilihanNya adalah agar kita menjadi anak-anakNya (Ef. 1:5). Jadi, pada mulanya, Bapa hanya memiliki Anak TunggalNya yaitu Tuhan Yesus Kristus. Tetapi, setelah kematian, kebangkitan dan kenaikan Tuhan Yesus Kristus ke sorga, dan turunnya Roh Kudus dimana umat pilihanNya dilahirkan oleh Roh, maka Bapa saat ini memiliki banyak anak. Itu sebabnya, Tuhan Yesus tidak malu menyebut kita saudara-saudaraNya (Ibrani 2:11-12).
Dalam menguraikan pokok tentang keselamatan (soteriologi) ini, kita akan melakukannya melalui pendekatan Allah sebagai Keluarga. Memang hal ini tidak umum dilakukan, tetapi agar dapat melengkapi bahan-bahan yang telah ada, maka kita perlu melakukannya juga. Dalam tulisan ini akan dilampirkan beberapa renungan keluarga sebagai bahan tambahan agar melaluinya kita dapat lebih memahami bahwa Allah adalah Keluarga Sejati itu, dan kita dapat menerapkan pemahaman ini kedalam keluarga kita sendiri.

II. Perencanaan Bapa

Penyelamatan Allah sebagai Keluarga dimulai oleh kehendak dan rencana Bapa sendiri. Efesus 1:5 mencatat, “…menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anakNya, sesuai dengan kerelaan kehendakNya”. Jadi, Bapa berkehendak agar kita menjadi anak-anakNya.
Kita lihat disini bagaimana Bapa, sebagai penyebab segala sesuatu, telah memiliki kehendak dan rencana didalam anakNya Yesus Kristus. Bapa tidak menjalankan sendiri kehendak dan rencanaNya, melainkan melakukannya didalam Anak. Allah yang adalah Keluarga, secara bersama-sama menjalankan kehendak Bapa, dimana tujuan akhirnya adalah, “…in the dispensation of the fullness of the times He might gather together in one all things in Christ…“[ Ef.1:10, The New KJV], yaitu agar pada dispensasi kegenapan waktu, Ia dapat mempersatukan segala sesuatu dalam Kristus.

III. Karya Kristus Yesus

Alkitab berkata bahwa, “Sebab upah dosa ialah maut…” (Roma 6:23). Ketika Adam berdosa , maka ia mengalami maut. Pengertian maut menurut Alkitab bukanlah hanya berarti kematian fisik saja. Kitab Kejadian 2:17 memberikan pada kita pengertian mati menurut Alkitab. Didalam ayat ini disebutkan, “…sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati “. Young’s Literal Translation menerjemahkan istilah mati sebagai, “…dying thou dost die “. Interlinear Hebrew-English, Kohlenberger, menerjemahkan istilah mati dari dua kata Ibrani yang berarti, “…to die…you will die”. Jadi, maut menurut definisi Alkitab adalah, suatu kondisi mati yang mengakibatkan kematian fisik.
Ketika Adam berdosa kepada Tuhan dengan melanggar perintahNya, ia tidak langsung mati secara fisik. Tetapi, ketika Adam berdosa, ia langsung berada dalam kondisi mati, yang berlangsung selama 930 tahun sesuai umur Adam, kemudian pada gilirannya menghasilkan kematian fisik.
Jadi, setelah manusia jatuh dalam dosa, ia berada dalam kondisi mati atau maut. Manusia tetap dapat berbuat, berpikir dan melakukan segala sesuatu, bahkan melakukan aktifitas agamawi, namun karena kondisinya ada dalam keadaan maut, maka semua perbuatannya tidak mungkin berkenan dihadapan Tuhan.
Penyelamatan Tuhan atas kondisi manusia yang sedemikian adalah dengan memberikan hidupNya. Yesus berkata dalam Yohanes 10:10, “…Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan “. Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Yesus ke sorga, serta turunnya Roh pemberi hidup itu ( life giving spirit, I Kor. 15:45, Young’s Literal Translation ), telah memungkinkan manusia menerima hidupNya, yang masih merupakan benih tentunya, namun akan terus bertumbuh sampai manusia mempunyainya dalam segala kelimpahan. Apabila manusia percaya, maka ia akan menerima hidupNya, dan hidup itu akan bertumbuh serta menelan maut ( I Korintus 15:54 ). Tindakan penyelamatan Allah yang terakhir adalah memberikan pada kita tubuh yang baru pada waktu kedatanganNya ( Roma 8:23 ).
Semua manusia yang menerima hidupNya akan menjadi anak-anak Allah. Demikianlah rencana Bapa terlaksana, dan ini semua terjadi oleh karya Kristus bagi kita malalui kematianNya di kayu salib.

IV. Karya Roh Kudus

Secara umum, karya Roh Kudus adalah mengaplikasikan seluruh apa yang telah dikerjakan Kristus bagi kita, kedalam pengalaman kita sendiri. Tidak mungkin seseorang mengalami pengalaman rohani apapun tanpa Roh Kudus lebih dahulu bekerja didalam dirinya. Pengalaman pertobatan, pembenaran, kelahiran ulang, pengudusan, dan dipermuliakan, semuanya terjadi pada orang percaya karena Roh Kudus telah bekerja lebih dahulu.
Demikianlah penyelamatan yang dilakukan oleh Allah yang adalah Keluarga itu. Bapa merencanakan, Anak melaksanakan rencana Bapa, dan Roh Kudus menolong orang percaya agar mengalami penyelamatan yang telah direncanakan Bapa sebelumnya. Selanjutnya, kita akan menguraikan sedikit tentang pengalaman orang percaya dalam keselamatan Allah.

IV.1.  Pertobatan

Istilah bertobat menurut kata Yunani metanoein berarti berubah pikiran. Tetapi, perubahan pikiran disini bukan hanya terjadi secara luaran saja. Perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15 dapat menjelaskan makna perubahan pikiran yang dimaksud. Ketika anak yang hilang sedang berada di negeri yang jauh, dan mulai mengalami kekurangan, maka ayat 17 mencatat, “Lalu ia menyadari keadaannya…”. Terjemahan Young’s Literal menyebutkan, “And having come to himself…”. Salah satu terjemahan mengungkapkan, “…he was beside himself…”.
Jadi, seolah-olah anak yang hilang itu “kehilangan kesadarannya” ketika ia memutuskan untuk pergi meninggalkan bapanya dan menuju kenegeri yang jauh. Tetapi kemudian ia kembali kepada kesadarannya atau ia “kembali kepada dirinya sendiri”, dan memutuskan untuk pulang ke rumah bapanya. Ketika anak yang hilang “kembali kepada dirinya sendiri”, maka inilah makna perubahan pikiran yang dimaksud dalam istilah bertobat (metanoein). Perubahan pikiran yang sedemikian ini tidak mungkin terjadi pada orang berdosa, kecuali Roh Kudus telah bekerja didalam dirinya. Inilah makna pertobatan yang mendatangkan keselamatan pada orang berdosa.

IV.2.  Pembenaran oleh Iman (Justification by faith)

Pembenaran atau justification maknanya adalah dinyatakan benar oleh Allah. Dinyatakan benar disini mengandung makna secara hukum seseorang dinyatakan benar. Artinya sesuai dengan tuntutan-tuntutan hukum, ia telah memenuhi syarat. Mengapa seseorang dapat dinyatakan benar oleh Allah pada hal semua orang telah berbuat dosa ? Jawabnya, karena kepada orang tersebut diperhitungkan kebenaran Allah. Orang tersebut menjadi kebenaran Allah. Dalam kondisi demikian, secara otomatis ia dinyatakan benar oleh Allah dan memenuhi syarat secara hukum.
Mengapa Allah menyatakan seseorang benar? Apa dasarnya? Apakah karena orang tersebut memang layak dipandang benar karena perbuatannya? Jawabnya, tidak ada seorang pun yang layak berdasarkan perbuatannya. Seseorang dinyatakan benar semata-mata atas dasar anugerah. Karena Allah berkenan memberikan kasih karunianya pada seseorang, maka ia dinyatakan benar. Segala sesuatunya mutlak pada kerelaan dan kehendak Allah.
Melalui apakah seseorang dinyatakan benar? Melalui iman! Imannya siapa? Imannya Tuhan Yesus yang dikaruniakan kepada orang tersebut. Mengapa semuanya ini bisa terjadi? Jawabnya karena KRISTUS TELAH MATI KARENA DOSA-DOSA KITA. Melalui darahNyalah semua ini bisa terjadi. Tanpa penumpahan darah, tidak ada pengampunan; dan kalau tidak ada pengampunan, maka seseorang tetap SEBAGAI ORANG BERDOSA DIHADAPAN ALLAH.
Apakah hasilnya apabila seseorang dibenarkan? Hasilnya DAMAI DENGAN ALLAH. Dan bukan itu saja, tetapi juga memiliki pengharapan akan memperoleh kemuliaan Allah. Umat kerajaan hanya merindukan KEMULIAAN ALLAH. Banyak orang Farisi dan ahli Taurat pada zaman Tuhan Yesus yang tidak berani terus terang mengakui Yesus karena takut dikucilkan, sebab mereka lebih suka kemuliaan manusia dari pada kemuliaan Allah. Tetapi bagian umat kerajaan adalah kemuliaan Allah.
Pembenaran oleh iman adalah poin penting di dalam Injil sebagai kabar baik. Karena melalui pengajaran ini, kita memberitakan Kristus yang disalib. Paulus memberitakan Kristus yang disalib. Rasul-rasul lainnya juga memberitakan Kristus yang salib. Umat kerajaan juga harus memberitakan Kristus yang disalib.

IV.3.  Kelahiran – ulang (lahir dari atas)

Yesus berkata di dalam Yohanes 3:3, “… sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali (born from above) ia tidak dapat melihat kerajaan Allah”. Didalam bagian ini, Yesus sedang membicarakan syarat melihat dan masuk kerajaan Allah. Yesus dengan tegas menyatakan tanpa dilahirkan kembali atau lahir dari atas, seseorang tidak dapat melihat kerajaan sorga. Istilah lahir kembali atau lahir dari atas atau lahir dari Roh mengacu kepada suatu pengalaman yang sama dimana pengalaman ini merupakan syarat mutlak melihat kerajaan Allah.
Mengapa seseorang perlu lahir dari Roh sebelum dapat melihat kerajaan Allah ? Untuk dapat melihat ini, kita perlu memahami dengan jelas akibat kejatuhan manusia. Roma 6:23 menegaskan bahwa upah dosa adalah maut. Juga kejadian 2:17 menegaskan bahwa pada hari manusia memakan buah pohon pengetahuan, ia pasti mati. Maut dan mati bukanlah suatu kondisi tanpa aktivitas. Menurut definisi Alkitab, maut dan mati adalah jenis kehidupan yang berbeda dengan jenis kehidupan yang Allah miliki. Akibat kejatuhan, manusia hidup dalam kondisi maut; artinya manusia beraktivitas (berpikir, berperasaan, berkemauan) tetapi sama sekali tidak bersangkut paut dengan aktivitas dan hidup Allah. Manusia yang hidup di dalam kondisi maut, sama sekali tidak dapat memahami Allah dan jalan-jalanNya. Manusia yang sedemikian tentu saja tidak dapat melihat dan memahami kerajaan Allah.
Di dalam I Kor 2:14 tertulis, “… Tetapi manusia duniawi (the natural man) tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah …” Disini manusia duniawi atau manusia natural (alamiah) adalah manusia yang lahir secara alamiah dari perut ibunya. Manusia yang sedemikian ini tidak dapat menerima perkara-perkara dari Allah. Baginya, perkara-perkara dari Allah adalah suatu kebodohan. Walaupun mungkin ia seorang teolog, sama seperti Nikodemus didalam Injil Yohanes pasal 3, tetapi ia tidak dapat memahami hal-hal dari Allah. Hal ini dikarenakan manusia alamiah adalah manusia yang hidup didalam kondisi maut, yang sama sekali tidak bersangkut paut dengan hidup Allah. Itulah sebabnya manusia perlu lahir dari Roh, sebelum ia dapat memahami perkara-perkara dari Allah.
Kalau demikian, apakah artinya lahir dari Roh? Dari Yehezkiel 36:26-27, kita mendapat pelajaran bagaimana tindakan Allah ketika memulihkan Israel. Di dalam pasal ini dinyatakan bahwa Allah akan memberikan roh yang baru dan RohNya. Juga dari Yohanes 3:6 dikatakan, “… apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh”. I Korintus 3:16 menegaskan bahwa Roh Allah diam di dalam orang percaya. Dari ayat-ayat ini dan yang lainnya, dapat disimpulkan makna sesungguhnya lahir dari Roh itu; yaitu seseorang menerima roh yang baru dan juga menerima Roh Allah. Jadi kita menerima roh yang baru yaitu roh yang lahir dari Allah dan roh yang baru ini tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah – ia adalah anak Allah (I Yohanes 3:9). Jadi didalam diri setiap orang yang lahir dari Roh, terdapat roh yang baru dan juga Roh Allah.
Apakah seseorang yang telah lahir dari Roh, masih perlu bertumbuh didalam pengenalan akan Allah dan kerajaanNya ? Tentu saja ia masih perlu bertumbuh. Sebab didalam I Petrus 1:23 tertulis, “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Istilah benih menunjukkan perlunya suatu pertumbuhan agar mencapai kematangan dan menghasilkan buah. Jadi walaupun seseorang telah menerima roh yang baru dan juga telah menerima Roh Allah, ia tetap masih harus bertumbuh.
Apakah target atau sasaran dari pertumbuhannya ? Pertumbuhan anak-anak Allah jelas memiliki sasaran yang pasti. Telah kita ketahui tujuan Bapa di sorga dalam mendisiplin anak-anaknya yaitu memberikan pengalaman “duduk bersama Tuhan Yesus didalam kerajaanNya di sorga” ( Efesus 2:6, “…memberikan tempat bersama-sama dengan Dia di sorga” atau “made us sit together…”). Dan bukan itu saja, melainkan juga mengambil bagian didalam warisan Kristus (Roma 8:17). Jadi Bapa di sorga mendisiplin anak-anakNya agar manusia luarnya semakin melemah oleh proses salib Kristus dan manusia rohnya (manusia dalamnya) semakin dewasa melalui pertumbuhan hidup Kristus sehingga MANUSIA ROH DARI ANAK ALLAH TERSEBUT BENAR-BENAR DUDUK BERSAMA TUHAN YESUS DI DALAM KERAJAAN SORGA. Sekalipun mungkin manusia luar dari anak Allah tersebut tidak mempunyai posisi apapun didalam organisasi kekristenan, tetapi manusia rohnya mendapat posisi tertentu, sesuai kerelaan Bapa, didalam kerajaan Tuhan Yesus Kristus. Dan apabila tiba waktunya Tuhan Yesus datang serta memanifestasikan DiriNya maka anak-anak Allah, yang mana manusia rohnya telah duduk bersama Tuhan Yesus, juga akan memanifestasikan dirinya bersama-sama Tuhan Yesus di dalam kemuliaan. Demikianlah genap Kolose 3:4, “Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan”. Inilah sasaran pertumbuhan anak-anak Allah.

IV.4.  Pengudusan (Sanctification)

Istilah pengudusan (sanctification; Yunani = Hagiasmos) muncul sepuluh kali didalam perjanjian Baru yaitu Roma 6:19,22; I Korintus 1:30, I Tesalonika 4:3,4,7; II Tesalonika 2:13; I Timotius 2:15; Ibrani 12:14 dan I Petrus 1:2. Pengudusan mengandung makna keterpisahan dari segala pencemaran daging dan dunia. Karena itu, pengudusan dapat didefinisikan sebagai pekerjaan Roh Kudus didalam diri anak Allah agar ia dibebaskan dari pencemaran daging dan dunia, serta dipisahkan khusus bagi Allah. Pengudusan adalah suatu proses disiplin dari Bapa disorga yang harus dijalani oleh anak-anaknya. Didalam pelajaran ini, proses pengudusan akan dijelaskan melalui simbol perempuan di kitab Wahyu pasal 12.
Didalam Wahyu 12:1,2,5,6 ada tertulis, “Maka tampaklah suatu tanda besar dilangit : Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang diatas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan. … Maka ia melahirkan seorang anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke takhtaNya. Perempuan itu lari ke padang gurun, dimana telah disediakan suatu tempat baginya oleh Allah, supaya ia dipelihara disitu seribu dua ratus enam puluh hari lamanya”.
Penggenapan dari simbol “Perempuan yang melahirkan anak laki-laki ini”, dapat diterapkan secara historis, pribadi dan nubuat. Secara historis, hal ini menggambarkan Anak Tunggal Allah yang dilahirkan oleh seorang perawan bernama Maria. Secara pribadi (rohani) hal ini menggambarkan roh (maskulin = anak laki-laki) yang terbebas dari belenggu jiwa (feminim = perempuan), sehingga roh ini berada dalam posisi memerintah (dibawa ke takhtanya). Secara nubuat, simbol ini menunjuk pada manifestasi putra-putra Allah yang lahir dari gereja akhir jaman (gereja “perawan”, sebagai lawan dari gereja “pelacur” di Wahyu 17) dimana putra-putra Allah ini akan membebaskan ciptaan dari belenggu kebinasaan (Roma 8:19-21). Dalam menjelaskan proses pengudusan, kita akan mengambil simbol ini dengan makna pribadi.
Secara pribadi, setiap anak Allah, perlu melalui “pengalaman Wahyu 12” ini. Pengalaman ini adalah suatu proses disiplin dan pengudusan jiwa, sehingga jiwa kita menjadi “perawan” dihadapanNya. Jiwa yang “perawan” disini berarti jiwa yang murni, tulus dan sepenuhnya menginginkan Tuhan. Ketika seseorang baru mengalami pengalaman lahir baru, ia masih memiliki dua keinginan didalam hatinya (mendua hati). Keinginan yang pertama adalah menyenangkan Tuhan karena pengaruh hidup Allah didalam hatinya, tetapi sekaligus memiliki keinginan akan dunia ini karena jiwa yang belum didisiplin. Tetapi apabila jiwa kita telah mengalami disiplin dan peremukkan oleh Bapa disorga, maka jiwa kita menjadi murni dan kita akan mengalami “pengalaman Wahyu 12” dimana roh kita dibebaskan dari belenggu jiwa sehingga manusia roh kita duduk bersama Tuhan Yesus di dalam kerajaanNya. Proses disiplin dan peremukkan jiwa oleh Bapa disorga ini kita sebut proses pengudusan (sansctification).
Apabila roh seseorang telah dibebaskan dari belenggu jiwanya, apakah ini berarti jiwanya telah sempurna? Apakah jiwa yang murni (“perawan”) itu berarti jiwa yang sempurna? Tentu saja tidak. Karena kita melihat didalam Wahyu 12:6 tertulis bahwa perempuan (jiwa) lari ke padang gurun. Artinya jiwa masih perlu didisiplin sejangka waktu lamanya sebelum siap untuk dituai, sebab padang gurun di dalam Alkitab selalu berarti proses disiplin.
Jadi, ada proses disiplin (pengudusan) yang perlu dilalui anak Allah sampai jiwanya menjadi “perawan” (murni) serta rohnya dibebaskan dan duduk bersama Tuhan Yesus di dalam sorga. Demikian juga ada proses disiplin (pengudusan) yang perlu dilalui anak Allah setelah manusia rohnya duduk bersama Tuhan Yesus disorga, sampai jiwanya benar-benar matang dan siap dituai. Meskipun demikian, kedua jenis disiplin ini (disiplin sebelum dan sesudah roh terbebas dari jiwa) memiliki dampak yang berbeda terhadap anak Allah yang mengalaminya. Disiplin yang dialami anak Allah sebelum rohnya terbebas dari jiwa, akan membuat kehidupan lahiriahnya “berantakan”. Artinya anak Allah ini menempuh suatu jalan yang penuh pergumulan dan “aneh”, sehingga mungkin saja ia kehilangan banyak teman, keluarga-keluarga dekatnya, pekerjaannya, harta bendanya atau yang lainnya. Seolah-olah anak Allah ini tidak diberkati (menurut pengertian banyak orang kristen). Tetapi sesungguhnya ia sedang mengalami proses disiplin, yaitu suatu proses dimana ia dipersiapkan untuk MEMERINTAH BERSAMA TUHAN YESUS DI ZAMAN-ZAMAN YANG AKAN DATANG. Tetapi apabila anak Allah ini telah melewati disiplin sebelum roh terbebas dari jiwa, dan apabila rohnya benar-benar telah duduk bersama Tuhan Yesus disorga, maka perlahan-lahan kehidupan lahiriah anak Allah ini akan dipulihkan Bapa disorga sesuai kerelaanNya. Apa yang dahulunya telah “berantakan”, mulai dipulihkan satu persatu. Mungkin pekerjaannya, keluarga, ministry atau yang lainnya. Demikianlah genap maksud pengudusan (sanctification) didalam diri anak Allah tersebut.

IV.5.  Dipermuliakan

Di dalam Roma 8:17 tertulis. “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia”. Setiap anak Allah adalah ahli waris, dan berhak menerima janji Allah serta akan dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Tetapi apabila anak Allah belum akil balig (belum dewasa), maka ia belum dapat menerima hak waris dan belum dapat dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Jadi setiap anak Allah perlu bertumbuh sedemikian sampai Bapa disorga menyatakan/meresmikan bahwa dia sudah dewasa dan dapat dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Istilah yang digunakan Alkitab dimana Bapa di Sorga meresmikan bahwa seorang anak telah dewasa adalah pengangkatan sebagai anak (adoption). Saat terjadinya adoption adalah saat dimana seorang anak Allah dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus, dan ini terjadi ketika Kristus menyatakan diri-Nya kelak pada saat kedatanganNya (Kolose 3:4). Jadi, dipermuliakan bersama Kristus, sama artinya dengan diangkat sebagai anak (adoption), juga sama artinya dengan menerima waris bersama dengan Kristus, dan semuanya ini terjadi pada saat kedatanganNya. Ketika itulah anak-anak Allah dinyatakan (Roma 8:19).
Saat pengangkatan sebagai anak (adoption) juga berarti saat dimana tubuh jasmani anak-anak Allah diganti dengan tubuh rohani. Di dalam I Korintus 15:44 tertulis, “ … Jika ada tubuh alamiah, maka adapula tubuh rohaniah.” Filipi 3:20-21 juga berkata, “ … kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuhNya yang mulia, menurut kuasaNya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diriNya”. Jadi, pada saat kedatangan Tuhan Yesus, anak-anak Allah akan memproleh tubuh rohani serta diangkat sebagai anak dan mendapat hak waris, dan juga dipermuliakan bersama-sama dengan Kristus. Saat seperti inilah yang disebut SAAT ANAK-ANAK ALLAH DINYATAKAN (Roma 8:19).

LAMPIRAN: Allah adalah Keluarga